Sabtu, 13 Februari 2010

FANFIC kim bum hero DBSK So ji sub

Chapter 6

"beres!!"
aku terSnyum. Mug iTu telah terletak manis di rak piring. Mug yang aku dan seorang laki 'gila' perebutkan. Mug yang ku pecahkan tadi pagi. Mug milik jae joong.
Aku tersenyum memandang mug itu. Terbayang jelas wajah jae joong yang sedang memakai mug itu. Dan tentu saja dia tidak menyadari mugnya telah aku ganti.
Aku bergegas ke kamarku untuk mengganti baju dan perban di tanganku. Tanpa aku sadar,pecahan mug jae joong masih tergeletak manis di tempat sampah.
***

"oppa! Dimana? Aku sudah menunggu oppa nyaris setengah jam!"
suara tae yeon begitu keras, sehingga kim bum harus menjauhkan hp itu dari tlinganya.

"mianhe tae yeon, tadi ada kejadian kecil, yang membuat oppa telat. Skarang oppa sudah di dpan apartement yang kau bilang, lt 12 nomor 405 kan?yasudah oppa parkir dlu, kita ketemu diatas saja."

kim bum menghela nafas. Adiknya yang 1 itu sifatnya memang keras,sangat bertolak blakang dgn eun ri, adik terkecilnya.
Mengingat eun ri,ia teringat kmbli dgn mug biru muda bergambar kucing tidur yang lucu itu. Mug yang tadinya akan dia berikan kpada eun ri, ttapi gagal, krn ada seorang 'cewek gila' yang merampas nya dri tangan kim bum.
Kim bum melengos, tringat kmbali wajah 'cewe gila' itu. Seketika langsung di elusnya kakinya, teringat apa yang dilakukan cewek tadi kpadanya.
Heran,koq bisa ada cewek gila seperti itu di dunia ini. Dasar bar bar!
Kim bum menepis smwa byangannya tntang 'cewek gila' itu.
Ia memarkir mobilnya dan bergegas menuju lt 12 apartement itu.
***

"mweo? Oppa, aku sudah memasak bnyak hri ini."
"oppa bener-benar tidak bisa, skrg oppa sdang ada pertemuan dgn client bisnis oppa, km simpan saja makanan itu untk bsk pagi,arraseo?"
"tapi oppa__"
"sudah dlu y hye won, client oppa sudah datang, baik- baik dirumah ya,dah"
"oppa__"
"tut..tut..tut.."
"aish!! Dasar bussinesman! Dibandingkan adiknya sndri lbih pnting bisnis!"

aku terdiam. Kupandangi masakan yang tertata rapi di meja makan.
"sabar ya nak, msih ada changmin dan jae joong yang akan menyantapmu koq." ujarku berbicara pada makanan yang terhdang slayakna berbicara kpd anak sndri.
Aku melihat jam di tanganku. Jam 7, Jae joong dan changmin mungkin sbntar lg akan plg.
Entah knp dadaku berdebar - debar. Ku tatap kmbli mug itu di meja makan. Ku pejamkan mataku dan menghela nafas.
"benar - benar menyiksa! Aish!!"
ku perhatikan skali lg mug itu dgn seksama, tak ada bedanya. Aku kembli menghela nafas, perasaan bersalah smkin kental merayapiku.
"mianhe jae joong-a,aku jg ga mw membohongimu, tpi ini kulakukan dgn terpaksa,arraseo?"
"sedang apa kau?"

aku tersentak. Kulihat jae joong berjalan di ruang tamu sambil menatapku.
Jantungku berdebar kencang, aku tergagap.
" se..sejak kapan kau ada disitu?"
"bru aja aku masuk, memangnya kenapa?"

jae joong berjalan menghampiriku. Dan duduk di meja makan. Jantungku berdetak tambah cepat.

"wah, ada angin apa? Tumben kau masak makanan yang benar, kau tidak sdang sakit kan?" ujarnya sambil mencomot kim-bab di meja makan.
Aku hanya bisa terdiam. Pikiranku melayang kmn - mana, aku benar-benar takut akan ketahuan.
"wae? Koq diam saja? Tidak seperti kau yang biasanya? Kau beneran sakid?"
jae joong menatapku khawatir. Aku menelan ludah. Hanya bisa terdiam.
Jae joong menghampiriku dan meraba keningku.
"tidak panas, tapi wajahmu sangat pucat! Gwenchana?"
"gwenchanayo.." ujarku lemah. Jae joong menatapku bingung. Diliriknya tanganku yang di perban.
"tanganmu tidak apa-apa?"
aku mengangguk. Dia memegang tanganku dan memeriksanya.
"loh,sudah kau ganti perbannya?" ujarnya smbil memerksa tnganku.
aku mengangguk.
"kau ini!! Benar-benar bodoh ya? Perbannya tidak rapi, dan lihat, aish!! Tanganmu berdarah, kau tidak sadar?"
"mwoe?"

jae joong menatapku kesal. Lalu bergegas ke kamar mandi, mengambil kotak p3k.
"cha~, sini!"ujarnya sambil menepuk-nepuk sofa ruang tamu.
"mwoeya?"
"sudahlah, cepat kesini, ppali!"
"mau apa kau?"
"kau pikir aku mau apa? Liat yang aku pegang tidak? Pabo! Masih saja bertanya! Cha~!"

aku duduk di sofa dgan cemberut. Jae joong mengambil tanganku, dan membuka perban yang melilitnya.
"Mengganti perban saja tidak bisa? sebenarnya apa yang bisa kau lakukan? Hah?"

aku mencibir. Jae joong memperhatikan tanganku.
"oMmO! Ya! Kau ini tadi melakukan apa sih? Kenapa lukanya jadi melebar begini?"
"aku tidak melakukan apa-apa. Kau terlalu membesar - besarkan!" ujarku jengkel. Jae joong menatapku serius.
"membesar - besarkan? Kau lihat saja sendiri Tanganmu! Lihat! Lukanya melebar! Kau apakan tanganmu? Kapan sembuhnya ini, dasar cewek psycho, menjaga dirinya sndri saja tidak bisa!"
"mwoe?psycho? Kim jae joong, lama-lama aku tidak tahan lg terhadapmu! Kau terlalu membesar-besarka masalah! Ini hanya luka kecil!"
"luka kecil? Lihat saja sendri, tanganmu terbelah -belah begini kau bilang luka kecil?"
"ne! Ini luka kcil!"
"kalau tanganmu di amputasi bru kau blg lka bsar?"
aku mncibir,yg di ikuti pelototan dr jae joong. orang ini benar- benar menyebalkan!!
ketika aku hendak membuka mulutku untuk berbicara jae joong mnatapku tajam.
"masih mau membantah??"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar